Satu Tahun Menjadi Ibumu, Zhen…

Photo by Braling Purworejo; Art by @artsayr

Cerita tentang kehamilan pertama saya, sepertinya selalu jadi cerita yang begitu membekas dan terkenang. Saya bisa sangat bersemangat menceritakan masa-masa hamil Zhen; bahkan masa-masa penantian sebelum Zhen datang. Mungkin karena 10 bulan menunggu Zhen datang, bagi saya adalah waktu yang sudah sangat lama (karena saya sendiri pacaran 10 tahun lebih sebelum akhirnya menikah, sehingga menunggu menjadi hal yang bisa jadi sangat depresif πŸ˜‚). Mungkin juga karena pengalaman hamil Zhen adalah pengalaman pertama, yang belum pernah saya rasakan sebelumnya dan jadi sangat menarik untuk diceritakan.

Hamil Zhen setahun yang lalu, tidak serta merta membuat saya bahagia luar biasa lho. Kok bisa? Iya. Kata-kata suami “Jangan terlalu show off. Kamu sudah tau sakitnya menunggu” seolah terulang terus di kepala, membuat saya banyak menahan diri; bahkan menahan lonjakan bahagia di dada. Saya merasa tidak mempersiapkan Zhen dengan baik, terutama secara emosional.

Tiap Zhen susah makan, atau dia banyak menangis seharian, atau dia sama sekali tidak bisa saya tinggal -bahkan untuk sekadar buang air, atau dia yang tidak bisa tidur nyenyak, membuat saya akhirnya menyesal ketika mengingat masa-masa kehamilan Zhen. Ya. Karena saya tidak merasa benar-benar mempersiapkan Zhen dengan baik.

Persiapan Pengetahuan

Menjadi seorang ibu? Apa itu? Seperti apa itu?

Jujur, saya sangat minim pengetahuan tentang parenting meskipun saya belajar banyak tentang life span development di Psikologi. Minim sekali buku-buku parenting yang saya baca sebelum hamil; karena memang sebelumnya tidak terbayang akan jadi orangtua. Menikah ya menikah saja. Ngotot ingin hamil, ya karena begah dengan banyak pertanyaan “Udah isi belum?”.

Begitu Zhen lahir, barulah saya dan suami mbingungi. Nonton The Return of Superman, download semua video di channel Youtube dr. Tiwi, beli buku-buku tentang parenting, MPASI, bagaimana menghadapi bayi sakit, dan sebagainya. Terlambat. Bagi saya, terlambat ketika baru mencari bacaan setelah anak lahir. Alangkah baiknya jika semua bacaan penting itu sudah khatam sebelum Zhen lahir, sehingga saya dan suami bisa lebih bersepakat dan kompak ketika membesarkan Zhen; tidak mbingungi.

Persiapan Emosional

Ini yang paling sering saya sesali. Ketidakmampuan saya mengelola emosi selama hamil -ya meskipun memang diakui kalau perubahan hormon selama hamil sangat berpengaruh, tapi saya merasa tidak bisa menjadikan itu semua permakluman. Ketika sedih, marah, kecewa karena suatu peristiwa, saya hampir lupa bagaimana caranya relaksasi, afirmasi positif, terutama ke janin di rahim saya. Yang saya lakukan? Menangis. Menangis sampai tersedu-sedu. Semua aura negatif rasanya yang muncul.

Penting, sangat penting mengelola emosi selama hamil. Misalnya dengan memanipulasi lingkungan. Jangan berada di lingkungan dengan stressor yang besar. Atau dengan melakukan yoga secara rutin. Itu sangat membantu tubuh dan pikiran menjadi lebih relaks, sehingga afirmasi positif dapat lebih ‘merasuk’ ke jiwa.

***

Saya terlambat mengetahui ada @keluargagentlebirth yang digawangi oleh Bidan Yessie. Kebetulan saya follow akun @bidankita setelah usia Zhen hampir 1 tahun. Dan sungguh, saya menyesal luar biasa karena baru tau tentang bagaimana itu gentle birth justru setelah melahirkan.

Hamil Zhen, saya yang bahkan merasa tidak boleh bahagia berlebihan, harus menjaga perasaan banyak orang. Posting hasil testpack yang positif? Tidak pernah saya lakukan. Posting hasil USG? Atau video hasil USG yang berisi janin Zhen yang mirip Casper? No. Posting foto perut buncit? Atau foto yang dengan sengaja menunjukkan perut saya yang membuncit? Sama sekali. Kawan-kawan bahkan kaget tau saya hamil ketika saya posting foto kondangan, dan perut saya tampak ‘berbeda’. Posting foto dengan hashtag apapun tentang kehamilan? Apalagi. Betapa kuatnya saya menahan diri tidak menunjukkan bahwa saya sedang berbahagia karena akhirnya Zhen datang. Betapa saya tidak bisa dengan los merasakan bahagia karena Zhen datang, karena sempat ada hal yang membuat saya begitu marah sampai menangis berhari-hari di trimester awal kehamilan. Betapa saya juga sempat berusaha menyembunyikan perut saya yang mulai membuncit dengan memperbesar kerudung, memakai gamis yang lebih lebar, atau memakai jaket; agar tidak menarik perhatian orang karena saya hamil. Saya sampai malas meladeni pertanyaan orang tentang kehamilan saya. Bayangkan.

Sebenarnya, bahagia ketika hamil memang tidak melulu tentang apa yang ditunjukkan di media sosial. Apapun media untuk berbagi bahagia menurut masing-masing orang, pasti berbeda. Ada yang bahagia ketika bisa menunjukkan di media sosial hal-hal yang sedang dialami. Ada yang bahagia hanya cukup dengan berbagi pada orang-orang dekat. Ada yang bahagia dengan dipendam saja. Apapun yang dipilih, pastikan saja kita nyaman melakukannya; tidak perlu menjadi bahagia yang ditahan-tahan.

Ah, Zhen.

Satu tahunmu ini membuat Ibu banyak merenung…

Maafkan Ibu, Sayang… Semoga dengan Ibu selalu di sisimu, tidak pernah meninggalkanmu lebih dari 30 menit, sedikit-sedikit posting IG story tentangmu, atau posting dengan caption panjang tentangmu, atau bersemangat mengoleksi video-video dan foto-fotomu untuk kemudian Ibu lihat kembali, bisa mengganti kebahagiaan Ibu yang dulu Ibu tahan-tahan ketika kamu datang.

Ibu sayang Zhen. Ibu sangat mencintai Zhen. Ibu sangat bahagia karena memiliki Zhen, memiliki darah-daging Ibu sendiri. Dan Ibu, sangat menantikan masa ketika Zhen juga akan katakan “Zhen juga sayang Ibu”…

Selamat satu tahun, Sayang. Baarakallaah… Grow up well and stay healthy, Nak… 😚😚😚

Rabbi habli minash-shaalihin

Advertisements

(Marriage Life #14) Memilih Suami

Beberapa hari lalu, media Malaysia-Singapura sempat dihebohkan dengan pernyataan salah satu ustad yang mengatakan, bahwa dalam Islam, memukul istri yang ‘stubborn‘, diperbolehkan; dengan 3 syarat yang menyertai tentu saja (tidak menimbulkan luka fisik, bukan di bagian kepala, dan bermaksud untuk memberi tahu apa yang benar). Mereka heboh karena, bagaimana mungkin kekerasan diperbolehkan dilakukan oleh pria kepada wanita yang adalah istrinya, oleh agama (yang katanya) terbesar di dunia. (Baca: https://coconuts.co/singapore/news/clerics-newspaper-column-includes-husbands-can-hit-stubborn-wives-internet-responds-accordingly/)

Kedua, saya sempat baca sebuah hadist tentang ART. Dalam hadist tersebut disebutkan, bahwa memperbanyak dzikir bahkan lebih baik dibanding memiliki seorang ART (asisten rumah tangga). Meskipun ada salah satu ustad yang mengatakan bahwa tugas utama istri setelah melahirkan anak adalah fokus saja untuk memberi ASI. Lalu bagaimana dengan pekerjaan rumah? Mencuci, menyetrika, menyapu, memasak, bebenah? Gojek-in aja πŸ˜‚.

Apa hubungan keduanya?

Keduanya menggelitik buat saya renungkan. Seberapa ‘berkuasa’nya pria dalam hidup seorang wanita ketika statusnya sudah berubah menjadi suami? Seberapa ‘dahsyat’nya kedudukan pria yang sudah jadi suami ini, sehingga surga paling utama yang bisa diperoleh seorang istri adalah dari berbakti padanya? Lalu, apakah istri harus 100% sendhika dhawuh? Apakah sama sekali tidak boleh punya ‘suara’? Apakah semua perlakuan suami (dan orang-orang di sekitarnya) harus diterima dengan ‘sabar’ demi meraih ‘surga’?

Kemudian, percakapan menjadi menarik ketika saya berdiskusi dengan 2 wanita (1 married, 1 single happy).

Married Women’s View

Dalam Islam, kita tahu kisah Fatimah dan Ali. Ali dikisahkan adalah pemuda yang ‘miskin’, dan bahkan tidak mampu menyediakan ART untuk membantu Fatimah. Rasulullaah SAW pernah pasang badan buat Fatimah ketika Ali berniat poligami. Wong Fatimah saja sudah all out sebagai istri, bahkan tanpa bantuan ART sekalipun; kurang apa?
Lalu, kalau tidak bisa menyediakan ART? Maka, orang pertama yang WAJIB MEMBANTU istri adalah suami.

Hubungan pernikahan itu, bukan tentang kekuasaan; siapa lebih berkuasa atas siapa. Pernikahan itu tentang tanggungjawab. Saya pernah nyeletuk begini ke suami. “Jadi laki enak ya. Nggak ngrasain sakitnya hamil, melahirkan. Nggak ngrasain sakitnya disminorhea“. Sambil ngudang Zhen, suami jawab, “Tapi tanggungjawab dunia-akhiratku atas kalian, nggak bisa digantikan lho”. Clakep. Saya diam.

Ketika kita memilih suami, maka kita memilih siapa yang akan bertanggungjawab dunia-akhirat atas kita, istrinya. Nah. Tentang ‘kuasa’ yang tadi saya bilang, saya juga jadi berpikir. Bagaimana seharusnya seorang istri bersikap terhadap pria yang kita iyakan bertanggungjawab pada dunia-akhirat kita? Ngeyel? Menuntut ini-itu? Meminta mereka minta maaf duluan untuk kesalahan yang tidak mereka lakukan? Seenaknya bilang ‘terserah’? Nanti-nanti kalau dimintai sesuatu?

βœ” Mengeluarkan Opini versus Ngeyel

“Kalau aku sendiri, kepada sosok tersebut, aku rela untuk dibimbing, diarahkan, selama dalam kebaikan. Itu sebabnya, memilih suami memang ‘berat'”, kata si married woman. Sejauh mana kita rela dibimbing dan diarahkan oleh suami? Apakah makna kerelaan dibimbing dan diarahkan berarti sama sekali tidak punya suara?

Bagi wanita yang punya bakat keras kepala seperti saya, tidak punya hak untuk bersuara menjadi isu penting. Suami sering sekali mengatakan bahwa saya ini ngeyelan, kalau dikasih tahu, pasti njawab dulu. Lalu saya tanya balik, “Tapi pada akhirnya, aku tetap patuh kan?”. Suami tampaknya mengiyakan meskipun berat hati πŸ˜‚.

Di situ menurut saya letak perbedaannya.

Dulu, karena saya menjalani pacaran sebelum pernikahan, bagi saya, BIG NO diatur-atur oleh pria. Jadi, tidak perlulah mengiyakan, atau mengakhiri dialog dengan kepatuhan. Siapa elo, siapa gue? Kalau dia bilang A, lalu saya bilang tidak setuju-tidak mau, ya saya kekeuh tidak setuju. Mau dia suka atau tidak, monggo. Itulah ngeyel.

Setelah menikah? Mari kita bahasakan sebagai ‘mengeluarkan opini’. Pernah suatu kali menjelang MPASI Zhen, saya izin (iya, setelah menikah, meminta izin atas apapun adalah wajib) beli kaldu bubuk untuk saya campur ke makanan Zhen; karena menurut testimoni, banyak yang anaknya makan lahap setelah diberi itu. Suami menolak. Katanya, nanti jadi candu. Kalau nggak dikasih, nanti Zhen nggak mau makan. Kita yang repot. Jadi, tidak perlulah beli begituan. Saya marah. Adu argumen terjadi di situ. Kolot banget sih ini orang, pikir saya. Akhirnya? Saya iyakan dengan berat hati untuk tidak beli, lalu pergi meninggalkan suami.

Pasca saya pergi untuk menenangkan diri pasca beratnya mengiyakan ‘kolotnya’ suami, saya merenung. Eh, tapi apa yang suami bilang juga tidak salah. Kalau nafsu makan Zhen lahap karena diberi kaldu bubuk, berarti dia harus makan pakai kaldu bubuk terus dong. Diam-diam saya mulai merelakan.

Melihat saya yang tadi bersungut-sungut, suami menghampiri. “Kita coba beli 1 ya. Jangan keseringan pakainya. Kita lihat reaksi Zhen”. Saya langsung sumringah, sekaligus minta maaf karena sudah marah dan nyelonong pergi.

See? Saya bisa saja kekeuh dengan pendapat saya. Saya bisa saja bertahan pasang tampang bersungut-sungut biar suami luluh. Tapi, saya jadi lebih paham, bahwa setelah menikah, tetap perlu kok mengeluarkan opini untuk membuka kesempatan berdialog, berdiskusi, lalu diambil keputusan bersama.

βœ” Menyikapi Intervensi Pihak ‘Asing’

Memilih suami itu memang hal berat. Memilih suami, bukan hanya berhenti pada akad nikah, menghalalkan yang haram, memberi nafkah, lalu sudah. Kita tidak hanya menikahi seorang pria, tapi menikahi keluarganya; seluruh keluarganya -kalau tinggal di lingkungan dengan budaya kolektif. Apapun yang dilakukan istri, si menantu ini, pasti akan jadi ‘sorotan’.

Oleh karena itu, penting untuk tahu kebiasaan keluarga pasangan; apa yang disuka, apa yang menjadi kebiasaan. Bukan untuk pencitraan (macam kampanye saja yang butuh obral citra biar bisa diterima). Menjadi diri sendiri tetap penting. Namun, penting bagi istri untuk menjaga sikap sebagai bentuk hormat kepada suami juga. Saya sih begitu.

Lalu bagaimana kalau keluarga mertua kadang tidak sejalan? Kepo banget? Sedikit-sedikit intervensi. Sedikit-sedikit komentar; terlalu banyak pesan ini-itu. Si istri bawa tas baru, ibu mertua iri. Si istri diajak makan di rumah makan yang agak wah, ipar rempong. Misalnya…

Di situ peran suami menjadi penting. Sangat penting. Bagaimana dia mampu pasang badan untuk istri. Bagaimana dia sanggup menemukan win-win solution agar tidak ada yang dianggap diutamakan, tidak ada yang lebih dikalahkan dibanding yang lain. Bagaimanapun, istri berasal dari luar; bukan siapa-siapa sebelumnya. Butuh adaptasi yang tentu tidak mudah. Itulah kenapa suami harus membantu. Toh tidak tiap hari kita akan tidak sejalan dengan keluarga suami kan?

‘Asing’ di sini lebih mengacu pada pihak-pihak di luar suami dan istri. Pernikahan yang terjadi antara pria dan wanita, ya sudah, hanya si pria dan si wanita saja yang ada di dalamnya; secara finansial, keputusan yang berkaitan dengan rumah tangga, atau apapun, sebaiknya diputuskan berdua, tanpa intervensi pihak manapun. Meminjam istilah Bang Arham Kendari, pernikahan, rumah tangga itu ibaratnya kopi. Susu, gula, krimer, adalah pihak ‘asing’. Mereka bisa membuat si kopi menjadi lebih sedap, bisa juga membuat si kopi jadi mblenger. Tergantung selera.

Overall, bagi married women, bukan lagi pekerjaan memilih suami yang berat; tapi menerima kondisi suami, segala kelebihan-kekurangan, pun dengan keluarga besarnya. Married women bukan lagi wanita bebas, yang kalau tidak suka bisa langsung pergi kalau enggan menerima atau memperbaiki. Pernikahan tidak sebercanda itu.

Single Happy’s View

Bagi si single happy, memilih suami jelas menjadi pekerjaan berat. Memilih pria yang mau menghargai wanita, mendengarkan dulu si wanitanya ngomong, paham bahwa memang wanita wajib patuh, tapi kalau ambil makan-minum sendiri bisa, sementara si wanita masih sibuk di dapur, sibuk dengan anak atau sedang ada tamu, ya bisalah ambil sendiri. Memilih suami, juga berarti memilih calon ayah bagi anak-anak kita. Jangan sampai begitu punya anak, suami ini nggak mau bantu ngurus. Boro-boro sampai memberi istri kesempatan untuk tidur barang 30 menit saja. Membersamai anak tanpa memanggil ibunya 30 menit saja tidak sanggup. Boro-boro sampai mau mengganti popok di malam hari. Tiap akhir pekan saja lebih pilih tidur pulas daripada menemani anak bermain.

Sayangnya, hal-hal tersebut lebih sering ‘terbuka’ pasca menikah. Jadi, seolah wanita berada di posisi yang sama sekali tidak menguntungkan; membeli kucing dalam karung. Nah, di sinilah pentingnya komunikasi yang tepat sebelum yakin akan lanjut ke jenjang pernikahan.

βœ” Bagaimana pandangan tentang pernikahan? Bagaimana pandangan tentang kepatuhan istri pada suami? Apakah kelak istri wajib bekerja atau tidak? Bagaimana pendapatnya tentang wanita yang mandiri, tentang mengeluarkan opini? Apakah dia bisa menerima jika diberi masukan, pendapat? Bagaimana pendapatnya tentang berbagi pekerjaan rumah? Apakah ‘haram’ baginya memasak, cuci piring, belanja, ataupun mengasuh anak? (Baca: http://www.gracemelia.com/2016/05/untuk-para-suami-berbagi-tugas-yuk.html?m=1)

βœ” Bagaimana dengan keluarganya? Apakah memungkinkan ngobrol dengan calon mertua? Calon kakak ipar? Apakah ada informasi dari orang sekitar tentang bagaimana keluarga si pria dipandang di lingkungannya?

Semacam itu.

Menjalani pernikahan itu bukan menjalani hari-hari bulan madu yang penuh kemanisan, kemesraan, every single day, for the rest of your life. Saya bilang, tidak ada benar-benar puncak bahagia dalam pernikahan. Bisa saja, sejak pagi, mood ceria luar biasa. Lalu sejurus kemudian, karena pasangan salah omong, atau ada orang lain yang salah omong, mood memburuk, pasangan yang jadi korban. Bisa jadi, seharian kita bahagia, dan berdoa semoga kebahagiaan ini bertahan seterusnya. Tapi keesokan hari, pasangan berbuat menyebalkan yang merusak hawa bahagia kemarin. Begitulah…

So, selamat memilih suami, bagi yang belum menikah. Selamat mengecek bibit-bebet-bobotnya, dengan cara yang benar dan terhormat. Selamat meyakinkan diri; apakah kekurangan ini bisa diterima, apakah kelebihan yang ini tidak akan membuat diri minder.
Selamat menerima banyak kekurangan di samping banyak kelebihan dari suami, bagi yang sudah menikah. Selamat bersepakat dengan banyak hal. Selamat menerima satu sama lain. Selamat menjadi pakaian yang menutupi aib satu sama lain. Berbahagialah dengan pernikahanmu. Karena itu akan jadi berkah buat anak-anakmu, orangtuamu, juga sekitarmu.

Jakarta, 1 November 2017
Di tengah Zhen yang ngadul-adul jemuran di kamar πŸ˜‚

Doa yang Spesifik

Saya sering dengar kata-kata tersebut dari sepupu saya, @madamejogja. Saya akui kelihaiannya ‘memutar-balikkan-kata’ menjadi kalimat yang begitu menancap di otak saya. Tidak ada kata baru dari kalimat yang jadi judul tulisan ini, memang. Hanya, pemaknaan dari ‘doa-yang-spesifik’ inilah yang ingin saya jlentrehkan.

Saya yakin dan paham, bahwa doa yang diajarkan dalam agama saya sebagai Muslim, lebih banyak doa yang general; semisal ingin anak yang shalih, ilmu yang bermanfaat, rejeki yang berkah, amalan yang diterima, meninggal khusnul khatimah. Tapi secara spesifik bagaimana anak yang shalih/ah, bagaimana bentuk ilmu yang bermanfaat, bagaimana wujud rejeki yang berkah, atau bagaimana ciri amalan diterima yang diwujudkan spesifik dalam doa, saya belum menemukannya πŸ€”.

Awalnya, masih sulit bagi saya menerima kalimat ‘doa-yang-spesifik’. Kenapa harus spesifik, wong tidak diajarkan begitu? Tapi segalanya jadi berbeda ketika saya hamil; ada calon manusia yang hidup di rahim. Saya jadi merasa, tidak cukup hanya berdoa agar anak saya kelak menjadi anak yang shalih/ah.

Maka, sepanjang perjalanan kehamilan, saya mulai detail ketika berdoa. Bukan mendikte Allah, bukan. Tapi rupanya, spesifik ketika berdoa untuk janin, lebih menjadi afirmasi positif yang masya Allaah bisa terwujud begitu janin menjadi bayi yang berhasil lahir.

Berdoa agar Zhen lahir utuh, normal, sehat. Berdoa agar Zhen punya BB lebih dari 3kg (ini lebih karena saya yang berbadan kurus dianggap tidak mungkin punya bayi dengan berat lebih dari 3kg πŸ˜‚). Berdoa agar Zhen kelak sabar dan tidak menguji kesabaran. Berdoa agar Zhen patuh pada ayahnya (saya lebih sering menyebut ayahnya dibanding saya sendiri πŸ€”). Berdoa agar Zhen lahir maju biar tidak terlalu mepet dengan persiapan pernikahan Bubu-nya (adik saya). Berdoa agar Zhen lahir ketika ayahnya di rumah. Semacam itu.

Terkabul?

Saya tidak bisa katakan terkabul, karena saya takut jadi takabur. Doa saya jelas tidak sakti. Saya hanya bisa katakan, sebagian besar, Allah ridhai apa yang saya doakan itu terwujud. Satu hal yang lupa saya doakan selama hamil; agar Zhen mau makan banyak, mudah disuapi, tidak pilih-pilih makanan πŸ˜‚. Insya Allaah nanti anak kedua, saya akan tambahkan doa itu.

Sejak saat itu, saya jadi terbiasa mendoakan orang lain –entah ulang tahun kelahiran, ulang tahun perkawinan, atau apapun ketika dimintai doa– dengan doa yang spesifik. Bahkan saya sering menegaskan kembali, doa apa yang mereka inginkan dari saya.

Begitulah…

Karena bahkan ketika @titisaballerina mengirim pesan pada saya sebelum umrah dan bertanya saya minta didoakan apa, saya menjawab dengan sangat spesifik; saya ingin hamil, kembar. Saya sering tertawa jika mengingat permintaan saya yang serakah itu. Ya, kembar. Dan alhamdulillaah, yang Allah ijabah hanya Zhen. Saya dicukupkan dengan kehadiran Zhen; satu ini dulu 😍.

Jadi, selamat berdoa… πŸ˜‰

Zhen dan Dokter Spesialis Anak (Part 3-habis)

Lanjutan…

(Masih di usia Zhen yang ke 10 bulan)

Setelah terakhir kali mengalami flu (batuk, pilek dan demam) di usianya yang masih 2 bulanan, Zhen kembali terserang flu di usia 9 bulanan. Ketika dalam kondisi flu, jelas nafsu makan Zhen menurun, sehingga target dari dr. Tiwi 75 mL untuk 6 kali makan tidak tercapai. Selesai flu, nafsu makan makin menurun.

Saya sempat melakukan kebodohan dan kesalahan fatal sebagai ibu; memaksa Zhen makan. Memang, berhasil masuk lumayan banyak. Tapi, begitu kami kembali ke Jakarta setelah 2 minggu berada di Purworejo untuk penyembuhan Zhen (Zhen sakit tepat setelah sampai Purworejo), Zhen berontak luar biasa ketika didudukkan di high chair, menolak sama sekali makanan yang saya sendokkan ke mulutnya.

Sedih. Sangat. Berat badan Zhen yang memang susah naik, harus terjun bebas.

Saya dan ayahnya berpikir keras. Selain akhirnya menghentikan pemaksaan makan terhadap Zhen, kami sepakat membawa Zhen kembali ke DSA. Kali ini bukan dr. Tiwi. Kami menghubungi RS Bunda Medik dan bertanya, siapa dokter yang disarankan untuk konsultasi gizi. Mereka menyebut nama dr. Klara Yuniarti, SpA. Maka, hari itu juga (Sabtu) kami mendaftar dan datang ke RS Bunda Medik.

Bertemu dr. Klara, kesan kami, mirip dengan dr. Tiwi; sangat ramah. Beliau mempersilakan kami duduk, dan setelah melihat perkembangan Zhen, beliau meminta kami bercerita. Saya ceritakan kondisi Zhen. Beliau mendengarkan sampai selesai kronologi yang saya jabarkan, baru beliau memberikan kami arahan apa saja yang perlu kami lakukan. Bagi kami, konsultasi dengan beliau lebih santai, tidak buru-buru, dan kami merasa sangat didengarkan 😊. Untuk biaya, konsultasi dengan dr. Klara sekitar 360.000 rupiah.

Dan berikut hasil konsultasi kami:

βœ… Apa yang dimakan Zhen ➑ Ketika saya menyebut istilah “Menu 4 bintang”, beliau tertawa. Iya, tertawa. Beliau katakan, saya jadi korban pakem tertentu, korban media sosial, korban informasi. Saya diminta hanya fokus saja pada karbo, protein hewani, dan lemak. Terserah mau diolah macam apa, yang penting Zhen mau makan.

βœ… Bentuk, tekstur, penyajian makanan ➑ Saya katakan bahwa Zhen lebih tertarik pada makanan yang ada di piring ayah dan atau ibunya. “Jelas saja,” tekan beliau. Beliau menyarankan pada kami untuk menyajikan makan dengan bentuk nasi dan lauk dipisah, seperti makanan kami. Kalau perlu, makan dalam satu piring. Dan memang benar, itu lebih bisa membuat Zhen mau makan.

βœ… Gula dan garam ➑ Beliau mengiyakan penggunaan gula dan garam! Beliau juga mengiyakan M*lna bubur bayi (atau MPASI fortifikasi), puding M*lna (ini produk baru yang saya juga baru tau), juga biskuitnya. Beliau pun mengiyakan penggunaan salted butter. Selama ini saya kekeuh tanpa gula garam, karena dari sharing beberapa kawan berdasar grup tertentu, penggunaan gula dan garam di bawah 1 tahun harus skip. Saya menduga, usia Zhen 10 bulan ini butuh rasa yang lebih kuat. Dan saya pikir, dr. Klara adalah dokter spesialis anak yang pastinya punya pertimbangan dan tidak sembarangan memperbolehkan penggunaan gula dan garam untuk bayi di bawah usia 1 tahun.

βœ… Susu pendamping ➑ Selain Sangobion Baby, Zhen disarankan minum susu pendamping. dr. Klara memberikan pilihan: susu formula atau UHT. Saya terkejut. Susu UHT boleh untuk bayi di bawah 1 tahun? “Boleh. Dari 6 bulan sudah boleh,” tegas beliau. Wah. Saya baru tau. Saya pikir, iya juga ya. Toh banyak yang menggunakan ‘keju bayi’ untuk menambah rasa MPASI. Kami lalu memutuskan memberi Zhen susu UHT saja. Merknya? Ultra Mimi πŸ˜‚.

βœ… Zat besi ➑ Dengan kondisi Zhen yang HBnya belum mencapai 11, Sangobion baby yang disarankan dr. Tiwi diminum per hari 1 mL saja, oleh dr. Klara ditambah menjadi 3 kali 1 mL per harinya. Zhen juga harus menjalani cek kultur urine di lab untuk memastikan tidak terkena Infeksi Saluran Kencing (ISK).

Begitulah.

Kami bisa katakan, Zhen rombak total makanan dan kebiasaan makan. Seminggu pertama, kami lupakan dulu menyuapi Zhen di high chair. Saya suapi Zhen ketika dia berdiri, bermain, atau posisi apapun istilahnya; yang penting dia mau makan dan tidak trauma. Pelan-pelan, kami ajak dia makan bersama kami, lesehan. Apakah Zhen bisa lesehan? Tentu tidak. Kami lesehan, dia berdiri sambil pegangan bahu saya atau ayahnya. Dia makan dari piring kami. Berhasil? Alhamdulillaah…

Seminggu, Zhen sudah tampak tidak menolak makan. Saya coba pelan-pelan mendudukkan dia di high chair. Awalnya dia masih menolak. Tapi lama-lama, dia mau makan di high chair kembali, meskipun jika sudah bosan, sudah kenyang, dia akan merengek minta turun.

Saya lupakan target Zhen makan harus berapa mL per hari. Saya lupakan mengajari Zhen minum lewat sedotan. Saya lupakan keinginan saya untuk BLW. Saya harus ‘menyelamatkan’ psikologis Zhen yang sempat ‘trauma’ makan akibat kesalahan saya. Saya fokus membuat Zhen mau makan, mau ngemil, mau minum susu dulu. Pelan-pelan saya tambah targetnya; mau duduk di high chair sampai makannya selesai, minum dari gelas (dan Zhen lebih mau minum dari gelas yang sama dengan kami). PR kami adalah menambah porsi makan Zhen, mengajari Zhen makan sendiri, mengajari Zhen minum sendiri. Bismillaah…

Sekian yang bisa saya share ya… Semoga bermanfaat… πŸ˜‰πŸ˜‰πŸ˜‰

Zhen dan Dokter Spesialis Anak (Part 2)

Lanjutan…

Zhen 6-9 bulan

Di usia ini, Zhen masa transisi pindah ke Jakarta, mengikuti ayahnya. Di Jakarta ini, kami tidak punya gambaran DSA yang bagus. Jadi, andalan kami adalah media sosial. Banyak dibahas dan direkomendasikan ke dr. I. G. A. N. Pratiwi, SpA, MARS alias dr. Tiwi (@drtiwi). Beliau merupakan konsultan ASI yang sering mengadakan seminar dan mengunggahnya di channel Youtube miliknya. Saya dan suami sering menonton sebelum pindah ke Jakarta, terutama sebagai persiapan MPASI Zhen.

Dan berikut yang saya catat dari 2 kali hasil pertemuan dengan dr. Tiwi:

βœ… Permasalahan utama bayi full ASI: beberapa mengalami kekurangan zat besi dan maunya makan enak. Jadi, jangan terlalu ngotot sama pakem tertentu. Tidak ada kata ‘harus’ dalam mengasuh anak. Kalau perlu pakai gula/garam, pakai saja sedikit. Menurut WHO sih per hari maksimal 1 gram saja. Karena bayi ASI maunya makan enak, makan yang ada rasanya. Kalau dibaui atau dicicip tidak berasa, biasanya akan susah makan dia. Boleh berikan bawang merah, putih, pala, cengkeh, lengkuas, daun salam. Ibu-ibu selebgram itu biasanya menambahkan kaldu bubuk, keju bayi, nutritional yeast, atau berbagai macam jenis yang dijual di toko-toko online semacam @naturesmarket.id, atau @namaste.organic, dan kawan-kawannya. Saya sih, yang ada di rumah saja dan harganya terjangkau πŸ˜…. Kalau di grup HHBF (Healthy Homemade Baby Food), mereka tidak menyarankan penambahan gula-garam untuk bayi di bawah usia 1 tahun. Saya sendiri memang hanya sesekali memasukkan garam (kalau gula belum pernah) ke makanan Zhen, sejumput. Memang dasarnya Zhen bukan tipikal anak yang rakus makan atau lahap, ya mau dikasih mau tidak, sama saja. Tergantung mood. Dan menurut saya, dokter pasti sudah punya pertimbangan kenapa mengizinkan pemberian gula/garam, asal tidak berlebihan.

βœ… Zat besi, protein hewani, lemak, terbaik adalah daging sapi. Paling tidak 75-100 gram per hari (usia 8 bulan ke atas, tambah lagi). Jangan terpatok memberi anak makan harus 3x sehari. Misal pagi belum habis, ya lanjutkan lagi nanti; usia 9 bulan, paling tidak 75 mL untuk 6x makan. Kalau model bayinya gampang makan, paling tidak usia 9 bulan adalah 3/4 gelas air mineral ukuran 250 cc, jadi sekitar 180 mL per makan. Zhen? 100 mL per makan saja sudah alhamdulillaah.

βœ… Buah dan sayur tidak wajib, cukup buat kenal saja. Pagi-siang makan utama, sore bolehlah kalau mau ngemil buah.

βœ… Kasih anak kesempatan. Makin dini diberi kesempatan, makin bagus. Kesempatan buat makan sendiri, dilatih motoriknya. Disarankan ala ala BLW (baby led weaning) usia 8 bulan-an. Bayi yang pintar tekstur itu juga dilatih untuk makan sendiri. Berikan finger food. Kalau belum mau pegang, kita yang cuilkan, suapi pakai tangan. Jadi bisa kira-kira, sebesar apa yang sanggup dikunyah.

βœ… Imunisasi influenza tidak terlalu penting karena mutasi virusnya besar; kalau ada yang kena flu, akan tetap kena flu juga. Mending PCV saja, tergantung lingkungan anak dibesarkan. Dari video beliau Youtube, beliau juga menyarankan sedini mungkin imunisasi Rotavirus.

βœ…Jangan latah memberi vitamin, jangan mau jadi korban bisnis kesehatan. Berikan Sangobion baby saja untuk up zat besi; 0.8 mL-1 mL per hari selama 3 bulan. Cek darah dan urine juga kalau perlu. Ketika ke dr. Tiwi, HB Zhen tergolong normal rendah sehingga perlu diboost zat besi. Jadi, oleh beliau, Zhen diresepkan Sangobion baby dengan takaran 1 mL per hari. Sebaiknya diminum pagi sebelum makan. Sangobion ini rasa buah-buahan. Jadi Zhen mau minum.

βœ…Bayi ASI punya perkembangan sensori-motor yang baik. Jadi kalau dia tampak ‘terlambat’, jangan terburu terapi. Stimulasi dulu sendiri. Sabar, telaten. 1-2 bulan insya Allaah sudah bisa mengejar ketertinggalan. Kunci perkembangan motorik bayi ada pada stimulasi. Makin dini stimulasi, makin baik. Zhen baru bisa duduk sendiri di usia 8 bulan. Ini saya akui, cukup terlambat. Tapi saya dan ayahnya berusaha keras bekerja sama mengejar ketertinggalan dengan tiap pagi melatih Zhen ‘ongkok-ongkok’, melatih duduk sendiri. Saya sempat ke fisioterapis di Bunda Esti Baby Spa di Purworejo, meminta treatment Growing up Massage untuk Zhen. Sebenarnya saya juga sekalian belajar, agar bisa meniru bagaimana caranya menstimulasi bayi. Alhamdulillaah, setelah perjuangan 2 bulan, usia 8 bulan Zhen bisa duduk sendiri, merangkak, dan mulai mencoba rambatan.

Satu lagi yang saya selalu suka dari dr. Tiwi; beliau sangat percaya pada ‘feeling‘nya para ibu yg menyusui langsung. Jadi, ketika kami sempat konsultasikan perkembangan motorik Zhen, kami tanya apakah perlu terapi, beliau tegas menjawab, “Ibunya pasti tahu yang terbaik buat anaknya. Saya percayakan dulu sama ibunya” :’)

dr. Tiwi ini pasiennya sangat banyak di RS Bunda Medik, Menteng. Sehari bisa sampai 40 orang, dengan jam praktek dari pukul 8 pagi hingga 11 siang. Jadi, konsultasi dengan beliau tidak bisa berlama-lama, dan lebih banyak beliau yang menjelaskan dibanding kita yang bertanya πŸ€”. Biaya sekali konsultasi di RS Bunda Medik sekitar 280.000. Biasanya, nomor urut masuk berdasarkan kedatangan. Tapi pernah berdasarkan pendaftaran via telepon. Tergantung informasi dari CS.

Bersambung…

Zhen dan Dokter Spesialis Anak (Part 1)

Menjadi ibu baru, berarti akan berhadapan dengan cukup banyak ketidaktahuan, kekonyolan, coba-coba, dan sejenisnya, yang intinya, daripada saya ngawur, saya memutuskan ke dokter spesialis anak (DSA) ketika ada sesuatu yang berkaitan dengan tumbuh-kembang Zhen. Jujur saja, saya tipikal orang yang tidak mudah mengiyakan mitos ini itu. Jadi, daripada bertabrakan antara mitos dan logika saya, mengunjungi DSA menjadi salah satu keputusan yang tepat bagi saya.

Zhen 0-6 bulan

Di usia ini, yang mana usia Zhen masih full ASI, mengunjungi DSA saya lakukan untuk hal-hal berikut:

  1. Panas tinggi (mencapai 38.5 derajat Celcius ➑ Ini terjadi ketika Zhen berusia 2 atau 3 hari, saya agak lupa. Karena ASI belum deras, Zhen kekurangan cairan dan mengakibatkan suhu tubuhnya naik, demam. Saat itu saya kelabakan. Perawat mengatakan Zhen harus segera diberi cairan. Pilihannya antara susu formula atau air putih. Saya dan suami bingung. Ibu mertua menyarankan kasih saja sufor, yang ada gizinya. Selama ini saya selalu ingin Zhen ASI ekslusif, yang itu berarti, menjejali sufor akan ‘menyalahi’ keyakinan saya. Tapi pada akhirnya, kami ambil keputusan Zhen diberi sufor, demi demamnya turun dulu. Perasaan saya? Hancur. Ya. Saya menangis melihat Zhen dibawa perawat ke ruang perawatan tengah malam dan pasti akan diberi sufor menggunakan dot! Double attack. Besok paginya, kami baru bertemu dengan DSA, dr. Sri Wuryanto, SpA. Tambah shock bagi saya adalah ketika beliau katakan, kalau ingin ASI ekslusif, jangan kasih sufor. Cukup air putih saja. Sontak, saya langsung stop sufor dan lanjutkan air putih sampai ASI saya keluar lebih banyak.
  2. Pori-pori kulit di kepala tersumbat ➑ Ini terjadi pasca Zhen aqiqah 7 hari. Muncul bercak putih hampir di seluruh kepala Zhen. Kondisi kepala Zhen saat itu botak karena ketika aqiqah, rambutnya dicukur habis. Padahal saya blas tidak memakaikan bedak atau baby oil di kepala Zhen. Saya putuskan ke DSA yang sama. Kami diberi salep untuk dioleskan tipis-tipis di bagian yang ada bercak putihnya. Kulit newborn baby memang belum ‘sempurna’ sehingga masih banyak menyesuaikan diri. Alhamdulillaah setelah diberikan salep, bercak menghilang dan Zhen keringetan dengan gobyosnya. Hihihi
  3. Batuk, pilek, demam ➑ Ini terjadi ketika usia Zhen sekitar 3 minggu. Saya sempat menghela nafas panjang dengan banyaknya kecemasan karena dalam 3 minggu, sudah 3 kali saya bawa Zhen ke DSA. Dikit-dikit dokter πŸ˜₯. Ketika kondisi batuk-pilek-demam ini, Zhen dalam kondisi yang sangat lemah. Saya menangis tentu saja. Bayi ini belum genap berusia 1 bulan, tapi kok sudah sakit begini. Batuk-pilek-demam kedua dialami Zhen ketika usianya 2 bulan. Saat itu, saya juga sedang flu. Mommy menawarkan diri menyedot hidung Zhen, karena saya tidak pernah mau dan memang saat itu saya sedang flu. Lumayan memang, hidung Zhen jadi kelihatan lebih lega. Tapi, bagi saya tetap saja menyedot ingus menggunakan mulut bukan hal higienis. Huhuhu. Untuk sakitnya ini, Zhen diberi antibiotik yang harus diminum sampai habis, dan juga Ambroxol HCl. Sebenarnya, untuk kondisi flu begini, bayi cukup dijemur di bawah sinar matahari antara jam 7-9, selama 15-30 menit tiap harinya. Atau diuap. Tapi kondisi saat itu adalah musim hujan, lembab. Jadi saya sudah kadung bingung, panik. Ke DSA deh, diberi obat deh 😒.
  4. Mencret ➑ Ini terjadi di usia Zhen yang belum genap 1 bulan. Saat itu saya memang makan sambal, sedikit. Sungguh. Tapi kemudian berefek pada Zhen mencret. Zhen diberi puyer untuk mengobati mencretnya. Puyer ini tidak perlu diminum sampai habis, cukup hentikan jika sudah tidak mencret. Beberapa orang mengatasi mencretnya bayi dengan makan pisang atau minum jahe. Saya baru tahu setelah saya ke DSA. Saat itu saya dilarang sama sekali makan sambal dan merica. Puyer Zhen ini kebetulan baunya mirip jahe wangi serbuk.
  5. Jamur di mulut ➑ Ini terjadi ketika usia Zhen sekitar 3 bulanan. Awalnya ketika saya berniat membersihkan lidahnya, saya melihat bercak-bercak putih lumayan banyak di bibir Zhen. Itu terjadi tepat setelah Zhen berhenti minum antibiotik yang diberikan DSA untuk mengobati flu-nya. Saya pikir, itu reaksi obat saja. Tapi ternyata, di dalam mulut juga ada. Kali ini saya tidak langsung ke dokter. Saya googling dan tanya-tanya kawan dulu. Beberapa menyarankan untuk dibersihkan menggunakan kain kasa atau kapas yang disterilkan dulu dengan air panas, baru digunakan untuk mengelap. Saya lakukan itu tiap hari. Tidak lupa juga saya jadi makin sering cuci tangan dan membersihkan tangan Zhen (kebetulan memang Zhen sedang masa teething). Memang berkurang, tapi tidak hilang sama sekali. Bercak ini baru hilang benar setelah Zhen mulai MPASI. Lama ya? Iya. Alhamdulillaah nya tidak berlanjut sampai sariawan.

    Kondisi tersebut dialami Zhen ketika kami ada di Purworejo. Sebagai ibu baru, sakitnya Zhen membuat saya banyak sekali menyalahkan diri, menganggap diri tidak becuslah, menganggap diri bukan ibu yang baiklah. Tapi memang komentar lingkungan sangat berpengaruh. Kalau ada apa-apa sama anak, siapa yang ditunjuk pertama kali? Ya! Ibunya! Yang disalahkan? Ibunya lagi! πŸ˜₯

    But, overall, saya jadi banyak belajar untuk anak kedua nanti; apa yang perlu saya lakukan, dan apa yang tidak akan pernah saya lakukan… Kita, tetaplah ibu terbaik buat anak kita. Kita yang paling mampu berhadapan dengan anak kita. Semangat!

    Di Purworejo, kebetulan saya sejak kecil memang sudah kenal dengan dokter Wur ini. Beliau sudah sepuh, tapi masih sehat. Hanya saja, beliau mudah meresepkan obat dan antibiotik tanpa indikasi kuat. Beliau juga tidak menyarankan pemberian pisang untuk MPASI karena dikhawatirkan membuat bayi sembelit.

    Postingan selanjutnya akan saya bahas DSA Zhen pasca MPASI yaaa

    Bersambung…

    Selamat Jalan, Prof. Dr. Amitya Kumara, M.S, Psikolog

    Dari beliau, saya belajar bagaimana jujur menjadi diri sendiri, jujur mengekspresikan emosi.

    Marah ya marah. Tidak suka ya tidak suka. Protes ya protes. Jika ada yang tidak benar, ya memang harus dibenahi. Kalau orang lain tidak terima dengan caramu, mungkin memang cara mereka menerima dan mencintai dirimu berbeda dengan caramu.

    Tapi, jangan tanya lagi kalau beliau sudah peduli, sudah sayang, sudah cinta. Menghadiri wisuda, berfoto bersama anak-anak bimbingnya dengan senyum sumringah penuh kelegaan, pasti beliau lakukan.

    Siapa yang tidak tau bagaimana ‘keras’nya beliau pada mahasiswa bimbingan; dan beliau adalah pembimbing PKPP saya, berlanjut tesis, berlanjut menjadi ketua tim ahli Gc dalam proses penyusunan aitem alat tes AJT. Saya ingat betul pelukan erat beliau menjelang PKPP, saat tau saya kista… “Semoga Cheppy segera sembuh”. Sudah. Saat itu saya janji dalam hati pada beliau. Mau Mamanda marah-marahi, mau Mamanda tuntut ini-itu, mau disuruh menunggu bimbingan sampai lepas Maghrib, mau dikasih tugas seabrek dengan deadline ‘tidak-masuk-akal’, monggo. Saya benar-benar rela, meskipun keluhan di mulut ini tetap saja ada karena rasa lelah, penat, bingung yang melanda.

    Buat saya, Mamanda mengajarkan, kalau kamu memang cinta, cintai dengan benar, cintai sekeras yang kamu bisa. Seperti kata Tulus, “Tuntutlah sesuatu, biar kita jalan ke depan”… Atau seperti kata Najwa Zebian, kalau ada yang bilang kamu terlalu keras mencintai, jawab saja bahwa memang begitu cara kita mencinta.

    Dan ya… Mamanda mengantarkan saya sampai akhir keberadaan saya di UGM. Mamanda yang menggenggam tangan saya ketika 10 bulan saya galau belum juga hamil, “Dulu aku nunggu Wintang 4 tahun…”. Mamanda menunjukkan pada banyak orang untuk tidak menyerah; menjadi single parent, menjadi doktor dengan aktivitas yang luar biasa, bahkan pada kanker payudara yang terus melemahkan dirinya.

    Selamat jalan, Mamanda. Mamanda sudah tidak sakit lagi.

    You’ll be missed.

    And I’m done missing you… :’)

    And Dear Wintang… Yang kuat ya… Kamu harus tau betapa bahagianya wajah ibumu tiap kali menyebut namamu, bercerita tentangmu, tertawa atas polahmu. Kamu harus tau, betapa ibumu begitu dicintai, begitu luar biasa…

    Allaahummagfirlahaa warhamhaa wa’afiiha wa’fuanha

    Sugeng kondur, Mamanda… :’)