Dirgantara (Aksara Buat Zhen #4)

Ketika usia kehamilan saya 33 minggu, saya sempat ingin menyematkan kata ‘Dirgantara’ buat Zhen. Kenapa? Karena Mommy sering sekali mendoakan Zhen agar bisa seperti B.J. Habibie. Berat sekali bukan? Apalagi melihat film-film beliau yang ‘penuh’ derai air mata. Saya sempat katakan pada Mommy; andai Zhen punya otak macam Eyang Habibie, kuatkah saya sebagai ibu melihatnya berjuang sebegitunya?

Lalu, Zhen yang sudah masuk MPASI ini juga sempat membuat saya sepaneng. Terlalu banyak informasi tentang MPASI yang saya dapat; terlebih dari IG.

Tau yang berkelebat dalam pikiran saya?

Jika dan hanya jika saya memang berharap Zhen bisa semacam Eyang Habibie, bagaimana cara sang ibu membesarkannya? Tergelitik saya bertanya sendiri.

Eyang Habibie dilahirkan secara normal atau sectio? Full ASI atau berkolaborasi dengan sufor? Spoon feeding atau baby-led weaning yang jadi pilihan sang ibu? Apakah sang ibu menerapkan menu tunggal selama 14 hari pertama? Apakah Eyang Habibie pernah GTM? Ataukah beliau kenal kale, chia seed, raw almond milk, nutritional yeast, oregano, rosemary, minyak ikan, EVOO, ELOO, UB? Apakah beliau sempat memikirkan menu 4 bintang tiap harinya? Superfood, superveggie, superman? Kenal slow cooker atau food processor? Makanan apa yang dimakan Eyang Habibie selama dalam pengasuhan sang ibu? Apakah sang ibu pernah merasakan cemas liat KMS, cari info ke sana sini terkait imunisasi balita (dan harganya), vitamin-vitamin? Bagaimana cara sang ibu punya anak macam Eyang Habibie? 🤔🤔🤔

Ah, maka ‘setel kendho‘ memang benar adanya. Ketenangan dan percaya diri sebagai kunci pengasuhan memang benar adanya. Bahagia dan mencintai tanpa syarat memang benar adanya. Karena Zhen adalah Zhen, dengan segala keunikannya. Dan saya, adalah ibu kandungnya, dengan segala kekurangan dan proses belajarnya.

Sudah 14 hari kamu mau (belum suka) makan apa yang Ibu buat, Zhen. So thank you

Grow up well and stay healthy, Zhen. Grow up, and I’ll be there for you… 😚😚😚

Menjadi IRT (Aksara Buat Zhen #3)

Jauh sebelum Ibu terpikir punya kamu, Zhen, Ibu memang selalu ingin sekolah tinggi. Meskipun Ibu sebenarnya tidak terlalu yakin, apakah dengan sekolah tinggi itu, Ibu akan bekerja kantoran, berangkat jam sekian-pulang jam sekian, kalau nggak bejo ya bawa kerjaan ke rumah. Saat itu, Ibu sempat sedikit membayangkannya.

Lulus S1, Ibu menerima beberapa tawaran bekerja, kantoran. Tapi saat itu, Ibu putuskan untuk lanjut kuliah. Yang terpikir saat itu adalah, Ibu ingin jadi psikolog; psikolog pendidikan. Kenapa? Entah kenapa, Ibu menyukai sekolah. Ibu menyukai bayangan akan berada di sekolah, menerima ‘delik aduan’ dari anak-anak yang sedang proses mencari jati diri itu. Mungkin itu juga sebab Ibu lebih berat lanjut kuliah. Karena kuliah adalah sekolah; sementara bekerja kantoran bukan seperti sekolah. Hehe…

Lalu, kemudian kamu datang, Zhen. You’re my perfect distraction. Berubah semua rencana dan mimpi yang Ibu punya.

Punya kamu dalam hidup Ibu, membuat Ibu banyak mencukupkan diri, sekaligus banyak jadi serakah. Tentang mencukupkan diri, kita bahas nanti. Biarkan Ibu serakah dulu menceritakan betapa serakahnya Ibu.

Sejak kamu lahir, meskipun dengan luka SC yang membuat Ibu tidak bisa bergerak banyak, Ibu menolak tawaran salah satu perawat di RS yang menawarkan diri memandikanmu selama dua mingguan setelah kita keluar dari RS. Tidak. Ibu ingin Ibu sendiri yang memandikanmu. Meskipun akhirnya kamu sempat menangis terus-terusan, bahkan saat kaki Ibu baru sampai di depan pintu kamar mandi. Siapa yang bertanggungjawab karena kamu nangis terus? Tentu saja Ibu. Merasa bersalah? Jelas. Bingung? Apalagi. Tapi biarlah Ibu sendiri yang akhirnya belajar, dibantu ayahmu, sampai akhirnya kamu sudah bisa senyam-senyum ketika mandi, sampai hari ini.

Ibu mau serakah biar Ibu yang paling banyak menggendongmu. Biar apa? Biar kamu ngrasain betapa sayang dan bersyukurnya Ibu punya kamu. Biar yang paling kamu cari adalah gendongan dan dekapan Ibu. Biar Ibu sepuasnya menciumimu. Biar Ibu yang pertama tau gendongan posisi bagaimana yang sekarang kamu suka dan membuatmu nyaman. Biar kalau pundak, lengan, kaki Ibu pegal-pegal, ya Ibu saja yang rasakan.

Ibu juga mau serakah buat dapat semua ampunan atas dosa-dosa Ibu. Kalaupun dosa-dosa Ibu sulit diampuniNya, biar Ibu tambal dengan full time merawatmu dan ayahmu, Zhen. Biar Ibu yang serakah jadi sekolah pertamamu; yang ngenalin kamu pada kalam-kalam Allah dengan tiap hari Ibu perdengarkan ke telingamu, yang ngenalin kamu pada asiknya membaca buku dengan tiap hari Ibu bacakan meskipun kamu belum mudeng, yang akan ngajarin kamu ngaji meskipun dengan tahsin yang juga masih perlu Ibu perbaiki, yang akan ngajarin kamu bagaimana mencintai Ibu dan Ayah, yang akan ngajarin kamu biar bisa mandiri, yang akan ngajarin kamu ngomong, yang akan ngajarin kamu banyak hal. Biar Ibu serakah, ijazah yang Ibu punya, semua ilmu semasa kuliah tentang perkembangan manusia, kamu yang pertama memanfaatkannya.

Izinkan Ibu serakah ya, Zhen… Biar Ibu jadi serakah karena mencintaimu…

Menjadi Pria (Aksara Buat Zhen #2)

Suatu hari nanti ketika Ayah dan Ibu sudah tidak ada di dunia ini, pastikan kami sudah tulis dan beritahukan username, password, dan email semua media sosial yang kami punya ya, Nak?

Biar apa?

Biar kamu yang pegang kelak, biar kamu bisa baca-baca lagi apa yang Ayah dan Ibu tulis semasa hidup kami. Kami pastikan tidak akan posting hal yang membuatmu malu. Kelak, kalau mau posting wajahmu, atau apapun tentangmu, semoga kami nggak lupa untuk selalu minta izin.

***

Jalan hidupmu (semoga) masih panjang, Zhen. Tapi ini yang bisa dilakukan ayahmu yang tidak bisa tiap hari menyentuhmu, atau mendengar “cooing“-mu, atau menggantikan popokmu, atau mendengar tangisanmu yang kadang membuat Ibu sedih, panik, sekaligus geli. Ini yang bisa dilakukan ayahmu, sebagai komitmennya sejak punya kamu.

Ini yang bisa dilakukan ayahmu, pulang tiap akhir pekan, dan Senin-nya harus mulai kerja. Makan, mencuci, tidur sendirian di sana tanpa kita berdua.

Tapi, ini yang dimaui ayahmu.

Mempersiapkan semua yang kita butuhkan sebelum kita ke sana…

Menjadi pria itu tidak mudah, Zhen. Salah-salah, pria akan berakhir menjadi meme; perbedaan jomblo dan punya pacar atau sebelum dan sesudah menikah. Ibu tidak ingin jadi perempuan yang ada di meme atau guyonan-guyonan itu; yang memaksa pria untuk minta maaf meski tidak salah, yang seenaknya bilang ‘terserah’ kalau ditanya mau makan apa-di mana, yang keseringan ngambek bilang ‘nggak apa-apa’, atau yang selalu merasa benar. Tidak. Kamu juga harus tempatkan ayahmu di posisi yang benar; karena dia yang akan Allah mintai pertanggungjawabannya atas kita. Jangan memberatkan langkahnya.

Dan Ibu, doakan Ibu, perempuan yang dosanya juga akan ditanggung Eyang Kakung, ayahmu, dan kamu kelak. Doakan Ibu agar selalu bisa meringankan langkah kalian, para pria yang Ibu cintai, dunia-akhirat. Doakan Ibu, agar tidak pernah menjebloskan kalian di pintu neraka. Doakan Ibu…

*)Tulisan telah diposting di Instagram dan diregram oleh @30haribercerita

Jeda (Aksara Buat Zhen #1)

Zhen, bolehkah Ibu cerita sesuatu?

Boleh ya?

Kalaupun tidak boleh, Ibu tetap ingin kamu dengarkan…

***

Zhen, kamu mewarisi separuh kromosom Ayah dan separuh kromosom Ibu. Maka, ‘ainul yaqin ada beberapa karakter Ibu yg akan terwariskan padamu.

Menjadi peka itu tidak apa-apa, Zhen. Biar kamu nggak serampangan ngatain orang lain sensitif, sensian, moody, lebay, hanya karena kamu enggan memahami yang mereka rasakan dan pikirkan.

Punya kebutuhan afiliasi yang tinggi itu juga tidak apa-apa, Zhen. Hanya, kamu harus ingat bahwa cinta-bertepuk-sebelah-tangan itu nyata ada. Kamu harus merelakan diri jika orang lain tidak selalu punya tujuan yang sama denganmu, atau kebutuhan yang sama, ide yang sama, harapan yang sama, detail yang sama, semangat yang sama, penerimaan yang sama, antusiasme yang sama, rasa kangen yang sama; tentu, cinta yang sama. Jangan menuntut diri terlalu keras, agar kamu tidak berakhir menuntut orang lain harus sama denganmu; jangan memaksakan diri. Kamu harus belajar untuk kecewa ketika mereka yg kamu harap bisa ‘sejalan’ dengan harapanmu, memberikan respon seperti yang kamu inginkan, ternyata tidak mungkin melakukannya.

Ibu katakan ini karena sebenarnya Ibu sedang sedih, Nak.

Dan, seperti kata budhemu, @deiswasti, Ibu sedang belajar kembali bagaimana perlunya memberi jeda. Agar rasa sakit itu tidak ada lagi bahkan ketika diingat peristiwanya; rasa sakit yang tidak disadari sudah hilang begitu saja, nanti. Agar Ibu jadi tau, nanti; apakah harus bahagia merangkul kembali, atau merayakan kehilangan… :’)

*) Merayakan Kehilangan adalah judul buku yang ditulis oleh Brian Khrisna

Persiapan Jelang Kelahiran Zhen

Saya baru sempat menuliskan ini, tentang apa saja yang perlu dibawa ke Rumah Sakit menjelang persalinan. Ini saya tuliskan berdasar hasil sharing dengan kawan yang sudah lebih dulu melahirkan, juga berdasar pengalaman yang saya alami sendiri.

Jadi, inilah beberapa hal yang perlu dipersiapkan menjelang persalinan…

  1. Kondisi ibu

Hal paling utama yang harus dipersiapkan jelang persalinan tentu saja adalah kondisi kita, para calon ibu. Psikologis terutama. Kenapa? Karena proses persalinan, terutama persalinan anak pertama, persalinan pertama kali yang dialami seumur hidup, adalah proses paling mendebarkan menurut saya. Saya, sangat kesulitan menenangkan diri ketika itu. Terlebih karena proses persalinan saya adalah persalinan via operasi SC. Saya takut jarum apapun yang dimasukkan ke tubuh. Bisa dibayangkan bagaimana susahnya saya menjadi kalem ketika semua jarum infus, jarum untuk ambil darah, jarum bius lokal, dan kateter yang harus masuk ke tubuh. Dukungan suami terutama, dan keluarga dekat, sangat dibutuhkan di sini. Itulah kenapa saya sampai sering bilang, “Begitu kamu hamil, lalu mengasuh anak, kamu akan tau pria macam apa yang kamu nikahi”.

Usahakan selalu jaga kesehatan agar dalam kondisi fit trimester akhir. Latihan nafas, perbanyak jalan kaki, yoga, senam hamil, makan-minum yang sehat dan bisa menambah tenaga. Banyak berdoa, tentu saja. Saya banyak minum madu dan makan kurma di trimester akhir kehamilan. Ibu saya dulu bahkan makan telur bebek mentah, karena katanya bisa menambah kekuatan untuk mengejan. Saya tolak mentah-mentah ide makan telur mentah itu. Mungkin karena itulah, saya jadi tidak perlu mengejan dan harus menjalani operasi SC. Hehehehe… Bercanda.

Oh ya, jangan gunakan perhiasan jika tidak yakin bisa menyimpannya dengan baik, terutama bagi yang proses persalinannya melalui operasi SC. Saya harus melepas perhiasan saya waktu itu, dan saya titipkan pada suami yang kemudian berada di tangan Babe. Kebetulan, cincin kawin tidak berhasil saya lepas karena kenaikan berat badan yang signifikan membuatnya tertahan di jari manis. Dokter hanya bisa pasrah dan tertawa saja saat itu.

  1. Kebutuhan bayi

Nah, kebutuhan bayi ini lumayan. Karena itu persiapkan dengan baik. Pastikan ada yang menunggui kita di rumah sakit, dan ada yang mondar-mandir mengantar-jemput baju kotor. Suami yang saat itu menunggui saya di RS, sementara adik dan orangtua merelakan diri mondar-mandiri RS-kantor-rumah untuk drop baju kotor dan membawa baju bersih ke RS. Untuk persalinan normal, biasanya akan berada di RS 3-4 hari saja. Saya yang kebetulan SC, menginap di RS sampai 5 harian. Biasanya, paketan operasi SC adalah menginap 4 hari.

a) Baju bayi
Saya waktu itu bawa 9 atasan dan bawahan baju bayi. Saran saya, persiapkan saja 9 buah baju atasan berkancing depan, dan tidak perlu bawa celananya, kecuali diputuskan akan pakai diapers, bukan popok kain. Baju berkancing depan lebih mudah untuk dipakaikan ke bayi.

b) Popok kain
Saya bawa 18 popok kain, disarankan lebih jika tidak memungkinkan tiap hari drop baju kotor atau kondisi musim hujan. Seminggu pertama, pup bayi adalah meconium yang berwarna hitam kehijauan, dan itu sangat sulit dihilangkan. Saran saya, bersihkan dulu di RS sebelum meconiumnya mengering, baru dibawa dicuci di rumah. Sungguh, meconium ini sulit dibersihkan dan butuh disikat keras. Itulah kenapa disarankan beli popok kain yang tebal agar lebih awet ketika harus disikat keras.

c) Gurita bayi
Saya bawa 12 buah, dan alhamdulillaah tidak perlu beli lagi sampai sekarang (Zhen hampir 3 bulan). Sebenarnya, pihak rumah sakit sudah tidak menyarankan pemakaian gurita bayi. Tapi perawat tetap memakaikannya dengan pertimbangan untuk kehangatan bayi, dan saya setuju. Kebetulan kamar berAC dan saya masih khawatir, bayi sekecil itu rentan kembung terpapar AC atau kipas angin. Saya kebetulan beli gurita ikat dan agak merepotkan karena harus mengikatnya satu-satu. Untuk anak kedua nanti, saya akan prefer beli gurita bayi yang model rekatan saja.

d) Bedong
Ini juga sudah tidak terlalu disarankan oleh dokter. Tapi orang jaman dulu masih ‘ngotot’ meyakini bahwa bedong mampu membantu membentuk badan menjadi lebih proporsional. Iyakan saja. Hehehe. Yang jelas, saya tetap bawa selusin bedong demi kehangatan bayi.

e) Mangkok berbahan stainless steel dan waslap
Mangkoknya 1 saja, atau bisa juga pakai wadah plastik yang bisa ditutup rapat (seperti wadah es krim yang kotak itu) dan 5 waslap. Untuk membersihkan bayi dari pup dan pipisnya, DSA saya menyarankan pakai kapas, dibasahi cairan antiseptik; jangan pakai tisu basah. Atau kalau mau bolak-balik ganti waslap, pakai saja waslap yang dibasahi cairan antiseptik. Waslap ini juga diperlukan untuk membersihkan tubuh saya yang 2 hari tidak bisa mandi sendiri karena luka SC yang belum memungkinkan saya duduk bahkan berdiri, berjalan sendiri.

f) Perlak
Saya bawa perlak kecil 2 untuk alas ketika bayi tidur di box, juga alas ketika menggantikan popoknya.

g) Tisu basah, tisu kering, dan kapas
Jelas ini untuk mengelap banyak hal. Bawa saja tisu kering isi 250an 2 wadah, tisu basah 1 wadah, dan kapas potong isi 175an potong, 1 wadah.

h) Minyak telon
Jaga-jaga jika RS tidak menyediakan ini. Saya tidak bawa sabun ataupun shampoo, karena selama di RS, bayi dimandikan oleh perawat. Saya beberapa kali mengamati bagaimana perawat memandikan Zhen, jadi begitu keluar RS, saya bisa memandikan Zhen dengan tangan saya sendiri.

i) Bantal dan guling
Sudah jelas fungsinya.

  1. Kebutuhan ibu

Selain mempersiapkan kesehatan fisik dan kestabilan psikologis, ini yang perlu dibawa para calon ibu ke RS. Oh ya, pastikan sudah menyediakan koper dan tas ransel untuk membawa semua barang-barang ini ya?

a) Kain jarik, stagen, gurita ibu
Sedia kain jarik sekitar 4-6 buah. Saya jelas tidak bisa pakai celana dalam ataupun celana luar, sehingga jarik ini sangat penting. Sebagai ganti celana dalam, bisa pakai jarik atau kain apapun yang dipotong, tempelkan pembalut nifas di atasnya, lalu dipakai seperi kita pakai pembalut, tahan dengan gurita ibu. Biasanya hari-hari pertama, darah nifas yang banyak itu bisa tembus ke kain jarik, jadi sehari bisa pakai 2 jarik.

Stagen, saya hanya bawa 1, tapi sayangnya tidak saya pakai karena dokter baru memperbolehkan saya pakai stagen nanti setelah 40 hari. Takutnya luka SC bagian dalam masih basah dan pastinya terasa sakit jika ditekan terlalu kencang.

Gurita ibu, ini juga bawalah 4-6 buah, terutama jika sehari akan ganti tiap mandi. Beli gurita ibu model rekat juga lebih disarankan biar nggak capek ikat-ikat.

b) Pakaian dalam
Saya baru bisa pakai underwear setelah kateter dilepas, itu setelah saya bisa duduk. Jadi saya bawa sekitar 6 buah. Untuk bra, saya bawa bra menyusui 6 buah. Biasanya ASI belum keluar banyak ketika di rumah sakit, entah karena memang belum lancar, atau kondisi psikologis yang grogi/tertekan. Jika ASI sudah keluar banyak, bawalah breast pad juga, daripada harus gonta ganti bra karena basah.

c) Pembalut nifas
Saya bawa 2-3 bungkus pembalut khusus nifas. Bisa dibeli di apotik atau toko yang menyediakan ini. Saya pakai pembalut nifas hanya 2 mingguan saja. Selebihnya saya pakai pembalut biasa karena darah sudah tidak sebanyak awal-awal persalinan.

d) Pakaian
Karena saya bukan pecinta daster, maka saya tidak mempersiapkan daster ataupun daster busui. Saya bawa baju biasa kancing depan 6 buah. Lepas dari RS, saya sangat jarang pakai baju kancing depan. Karena saya IRT dan kebanyakan baju saya adalah kaos pendek dan celana, maka itu juga yang saya pakai. Irit anggaran juga. Kebetulan Zhen sering kurang sabar kalau saya buka-buka kancing. Jadi saya prefer pakai kaos oblong, kadang juga pakai kaos milik suami karena ukuran yang longgar dan bahan yang lebih nyaman dipakai. Hehehe

Saya juga bawa gamis 1 untuk pulang, 1 yang saya pakai ke RS. Saya sedia kerudung 2 saja. Kebetulan saya memang request tidak mau banyak yang menjenguk di RS. Karena sungguh, melahirkan itu butuh banyak istirahat, jadi jenguk saja di rumah setelah kondisi lebih segar.

e) Peralatan mandi
Pastikan bawa handuk, sabun mandi, shampoo, sikat dan pasta gigi, facial wash. Kalau ingin tampak segar ya bawalah bedak dan lipstik. Ehehehe

f) Kebutuhan suami
Karena suami yang menunggui saya menginap, jangan lupa siapkan juga baju ganti, sarung, sajadah, pakaian dalam, dan handuk. Peralatan mandi mah joinan saja.

g) Lain-lain
Charger, ponsel, tikar atau karpet, bantal tambahan, air minum, termos, gelas kecil, camilan, gendongan bayi model sling atau kain jarik (bagi yang bisa menggendong bayi dengan kain jarik), diapers (buat jaga-jaga kehabisan popok kain), sisir dan jepit rambut, kacamata, Dettol antiseptik, kaos kaki, pompa ASI (kebetulan saya tidak bawa, perawat mengajari saya menggunakan tangan untuk memerah) dan kebutuhan tambahan lain, disesuaikan saja.

  1. Finansial

Nah, ini yang paling penting. Perencanaan keuangan. Pastikan kita sudah memantapkan diri akan bersalin di RS mana, berapa biayanya, tercover asuransi atau tidak, bagaimana proses mengurus administrasi, bagaimana jika pakai asuransi (reimburse atau langsung potong saja). Jika tidak suka bawa uang jutaan, pastikan pihak administrasi RS memiliki alat gesek ATM. Jika tidak, ya bagaimana lagi.

Kira-kira, itu kebutuhan yang perlu dipersiapkan menjelang persalinan. Saran saya, persiapkan koper dan semua barang-barang yang diperlukan sekitar 5-6 minggu sebelum persalinan. Kebetulan, Zhen lahir maju 3 minggu dari HPL, dan alhamdulillaah saya sudah siapkan 2 minggu sebelum Zhen lahir. Oh ya, untuk memudahkan pencarian dan memudahkan orang lain membantu mencari, saya sarankan semua barang dibungkus dalam zipperbag atau plastik laundry dan beri tulisan di masing-masing plastiknya. Saat itu, saya tidak bisa berdiri untuk mencari dan mengambil sendiri barang kebutuhan saya ataupun Zhen. Jadi, perawat dan yang menunggui saya terbantu karena semua barang sudah saya kelompokkan dan saya tulisi di setiap plastiknya.

Semoga bermanfaat yaaaaa… Selamat menunggu keajaiban menakjubkan yang Allah berikan buat kita, para wanita… 😉

 

 

Welcome to the World, Zhen…

6 November 2016

6 November 2016

Kelahiran Zhen, sekaligus menjadi kelahiran saya kembali sebagai seorang ibu. Juga suami saya sebagai seorang ayah….

Kelahiran Zhen adalah episode penuh drama dalam hidup saya. Drama yang belum pernah saya alami sebelumnya, sehingga setiap scene dalam drama kelahiran Zhen begitu saya ingat tiap menitnya.

Berawal dari tanggal 5 November 2016, tepat sehari setelah perayaan 11 tahun saya dan suami menjalin cinta, saya merasakan nyeri yang tidak biasanya di bagian perut bawah. Menginjak usia kehamilan 8 bulan, saya memang sudah merasa nyeri di perut bagian bawah. Tapi hal itu akan segera membaik begitu saya jalan-jalan atau yoga ringan. Nyatanya ini tidak. Saya sampai ngos-ngosan saking tidak biasanya merasakan nyeri macam ini. Suami bilang untuk sabar dan menunggu selama satu jam dulu untuk melihat apakah ada perubahan. Tapi, Babe dan Mommy sudah keburu khawatir. Akhirnya, 15 menit kemudian, saya dibawa ke RSIA Kasih Ibu Purworejo, RS yang memang sudah kami berdua sepakati akan jadi tempat saya melahirkan Zhen.

Sekitar pukul 14:45 WIB saya masuk IGD. Tenaga kesehatan sudah melakukan pemeriksaan; tensi, mengambil sampel darah saya, melakukan cek detak jantung janin, dan terakhir ketika dokter Lukman datang, beliau melakukan pemeriksaan dalam guna mengecek pembukaan yang sudah saya alami. Menjelang Maghrib, saya dinyatakan bukaan 1. Pemeriksaan dalam itu sakit, sungguh. Saya sampai menjerit karena sakit sekaligus kaget. Drama kelahiran Zhen lebih banyak pada bagaimana saya harus sering sering menarik nafas panjang untuk mengurangi banyak rasa sakit. Tapi sesungguhnya, saya menyadari bahwa saya yang tegang sehingga sulit rileks. Maklum, ini kehamilan pertama, yang otomatis jadi persalinan pertama yang saya alami.

Dokter memutuskan melakukan observasi lebih lanjut pada saya, sehingga saya diminta menginap di rumah sakit dulu. Saya ditemani suami menginap. Hingga esok paginya, 6 November 2016 sekitar jam 8 pagi, kami dipanggil dokter untuk melakukan USG. Dokter menyatakan, pembukaan tidak juga berubah, masih bukaan 1. Janin Zhen sudah berusia 36 minggu 6 hari, dengan perkiraan berat Zhen 3200 gram. Sudah sangat boleh dilahirkan menurut dokter. Hanya saja, belum ada indikasi kuat dia harus dilahirkan. Saya belum mengalami flek ataupun lendir darah, ataupun pecah ketuban, ataupun pembukaan yang mulai bergerak menuju 10. Akhirnya, dokter menyarankan kami untuk pulang dan menunggu pembukaan lanjutan di rumah saja. Kami boleh pulang sekitar Dhuhur, menunggu administrasi.

Saya kemudian kembali berbaring sambil bercerita dengan adik saya yang sudah datang. Hingga tanpa diduga, pada pukul 11 siang, saya meminta bantuan adik untuk BAK dan bermaksud berjalan ke kamar mandi. Namun, rupanya ada cairan lain yang keluar dan tidak dapat saya tahan. Saya sangat yakin itu bukan air seni karena baunya amis. Paniklah kami bertiga. Sementara cairan asing itu masih sesekali mengucur, suami bergegas mencari bidan jaga. Sementara adik saya tegang menelepon Mommy yang hampir menggoreng belut dan mengabarkan kondisi saya. Beberapa tas yang sempat dibawa pulang oleh suami, ‘terpaksa’ dibawa kembali ke RS.

Tidak lama kemudian, bidan datang dan segera melakukan pemeriksaan dalam lagi. Kali ini, saya berusaha keras tetap rileks. Alhamdulillaah, saya tidak terlalu kaget dan tidak menjerit seperti kemarin. Bidan akhirnya menyatakan bahwa benar cairan yang keluar tersebut adalah ketuban. Tidak lama, perawat datang untuk memasang infus di lengan kiri saya. Untuk kesekian kalinya, saya yang sebenarnya sangat benci jarum apapun yang dimasukkan ke tubuh saya, harus kembali menghela nafas menahan sakitnya jarum infus. “Kami akan observasi lagi selama 6 jam untuk melihat apakah ada pembukaan lagi. Ini sudah pembukaan 2. Jika tidak ada pembukaan setelah 6 jam, maka kemungkinannya ada 2; induksi atau Cesar”, kata bidan. Saya bergidik mendengar kata induksi dan Cesar. Bagaimanapun, selama ini saya sudah berjuang untuk bisa melahirkan Zhen dengan normal; jalan-jalan tiap pagi, banyak bersujud, yoga ringan.

Khawatir, takut, sekaligus excited karena akan bertemu Zhen, campur aduk jadi satu. Bagaimana tidak. Zhen baru diperkirakan lahir sekitar akhir November, yang berarti ini maju 3 minggu dari HPL.

Enam jam menunggu rasanya lama sekali, sementara air ketuban saya terus menerus merembes, kalau tidak bisa dibilang mengucur. Maka, jam 4 sorepun datang. Kami dipanggil dokter.

Proses Operasi Cesar (SC/Sectio)

Saya kembali dibaringkan di IGD, sementara air ketuban terus mengucur tiap kali saya berjalan. Dokter menemui saya dan memastikan bahwa pembukaan saya masih bertahan di bukaan 2, tidak ada perubahan setelah 6 jam. “Bayi harus segera dilahirkan dengan kondisi seperti ini. Jika tidak, dikhawatirkan akan terjadi infeksi karena ketuban sudah banyak keluar”, kata dokter. Saya ditemani suami dan Babe ketika itu. Dokter menjelaskan dua kemungkinan yang harus saya hadapi; induksi atau SC. Induksi, berarti pembukaan akan dipacu melalui obat yang dimasukkan ke selang infus. Induksi ini tidak bisa dibatasi akan terasa dalam berapa jam; entah hanya 6 jam, 12 jam, atau bahkan 30 jam. Induksi juga ada kemungkinan gagal, atau berhenti di tengah jalan, yang mana keduanya berarti harus berakhir juga di meja operasi. Sementara SC, tinggal operasi saja. Selesai.

“Saya pro pasien. Mana yang akan pasien pilih, itu yang akan saya jalankan”, kata dokter. Saya memandang suami dan Babe bergantian, kemudian memandang dokter dan menyatakan mantap. “Bismillaah, Cesar saja, Dok”. Itu sekitar pukul 16:30 WIB. “Oke. Setengah 6 kita siap-siap operasi ya…”.

Selesai dokter mengatakan itu, semua perawat dan bidan bergegas melakukan apa yang menjadi tugas mereka. Detak jantung janin kembali diukur melalui sebuah alat yang dilingkarkan di perut saya. Kemudian, pemeriksaan EKG juga dilakukan, dan ini alhamdulillaah tidak sakit. Saya juga diminta mendeteksi gerakan janin dengan sebuah alat. Satu gerakan janin, saya harus menekan tombol. Ini juga tidak sakit. Lanjut dengan pemasangan kateter di saluran kencing. Dan ini… saya harus kembali menghela nafas menahan sakit. Darah kembali diambil. Janin Zhen bereaksi. Detak jantungnya menjadi lebih cepat dari biasanya. Saya berusaha mengendalikan diri, jangan sampai janin Zhen mengalami fetal distress karena ibunya yang sedang tegang.

Setelah semua pemeriksaan selesai, tepat 17:30 WIB, saya memakai baju operasi dan dipapah menuju ruang operasi yang tidak jauh dari kamar IGD, tentu dengan ketuban yang mengucur makin tidak terkendali.

Saya kemudian ditidurkan di sebuah kasur dan menunggu beberapa menit karena dokter sedang shalat. Setelah dokter masuk dan semua peralatan siap, saya mulai dibius lokal oleh dokter anestesi, dokter Bambang. Saya diminta duduk 90 derajat, dan dipegangi oleh seorang perawat. Dokter anestesi mencari titik tulang yang akan dimasuki jarum suntik, kemudian masuklah jarum suntik beserta anestesinya ke tubuh saya. Rasanya? Sakit sekali. Sungguh. Itu rasa sakit akibat jarum suntik, yang paling sakit yang pernah saya rasakan.

Saya mulai merasa kesemutan di kaki ketika dokter dan semua pihak yang terlibat operasi mulai mengelilingi tubuh saya untuk berdoa demi kelancaran operasi. Sayapun berdoa, dengan doa yang saya bahkan saya nyaris tidak ingat saya berdoa apa karena badan saya mulai gemetar. Saya mendengar bagaimana dokter mengiris bagian perut, mendorong janin Zhen keluar, hingga akhirnya Zhen pertama kali menangis untuk kehadirannya yang sudah kami tunggu, ke dunia. Saya yang sudah menangis, menjadi semakin tersedu. Saya melihat Zhen dibersihkan dan dibawa keluar dari ruang operasi. Dia pasti sudah ditunggu oleh ayahnya, pria yang sangat saya cintai. Zhen pasti juga sudah ditunggu oleh kakek-nenek, eyang-eyang, dan Bubu-nya. Suami saya menangis dan dicium oleh orangtua kami, sementara saya masih gemetaran hebat di ruang operasi. Karena saya tidak berhasil mengendalikan diri, dokter Bambang mengambil tindakan untuk membius saya secara total. Tidak sampai hitungan menit, saya terpejam, hilang kesadaran.

Saya tidak ingat jam berapa saya dibawa masuk ke ruangan. Saya sempat sebentar mengerjap-ngerjap, lalu tertidur lagi, menerima uluran tangan selamat entah dari siapa saja, lalu terpejam lagi. Yang saya sadari, saya sempat menanyakan, “Akachan mana?”. Akachan adalah panggilan sekaligus doa untuk Zhen selama ia masih janin di perut saya. (Akachan=bayi [Jepang]). Saat itu, Zhen masih disinar dan baru diberikan pada saya sekitar pukul 11 malam. (Zhen=berharga)

Selamat Datang, Zhen

Aqiqah Zhen, 13 November 2016

Aqiqah Zhen, 13 November 2016

Dan begitulah, kehidupan baru saya dan suami sebagai orangtua dimulai. Proses operasi Cesar yang penuh drama, termasuk ketika saya menjerit menangis memeluk Mommy dan suami secara bergantian karena tidak tahan dengan sakit keluarnya gumpalan gumpalan darah nifas… semuanya sungguh masya Allaah… Allah yang memberi saya semua kekuatan untuk bisa menghadapi persalinan dengan proses yang akan saya ingat seumur hidup saya; kelahiran Zhen, putra pertama kami.
Selamat datang dalam hidup Ayah dan Ibu, Ammar Zain Setiawan, laki-laki yang membangun hal-hal indah, insya Allaah… Semoga kami selalu menjadi manusia yang bersyukur, yang tidak mudah mengeluh ketika membesarkanmu, yang pantas mendapatkan baktimu. Dan semoga, Zhen panjang umur, mudah tertawa, menyenangkan, membawa bahagia, rajin shalat, mencintai Allah SWT dan para utusanNya, juga mencintai semua yang Allah firmankan, mencintai semua yang Rasulullaah SAW sabdakan, menjadi pribadi yang sabar dan tidak menguji kesabaran.

We love you most, Son

Dan untuk suami saya… Saya tidak tahu lagi apa yang harus saya katakan selain maaf dan terima kasih. Ah, tapi kita sepakat untuk selalu berterima kasih dibanding minta maaf… :’)

Terima kasih banyak, Sayang… Thank Allah, I found you…

Terima kasih banyak, RSIA Kasih Ibu Purworejo

Semua momen ini tidak lepas dari peran banyak pihak di RSIA Kasih Ibu Purworejo. Terima kasih banyak pada dr. Lukman Hakim, Sp.OG atas semua konsultasi yang menyenangkan dan kesabaran menghadapi pertanyaan saya yang langsung ingin makan sate kambing dan minum kopi pasca melahirkan. Terima kasih banyak pada dr. Bambang, Sp.An (saya agak lupa gelar beliau) atas anestesi yang segera menemukan titiknya, juga tindakan cepat untuk memberikan bius total pada saya demi keselamatan saya. Terima kasih banyak pada para bidan dan perawat yang rela begadang, tiap dua jam sekali mengecek kondisi saya, yang di pagi buta rela menjagai Zhen yang mengalami demam, yang tanpa rasa jijik membersihkan ketuban, juga darah saya. Terima kasih banyak atas compliment hair spa yang diberikan untuk saya menjelang kepulangan. Sungguh, 45 menit itu sangat berharga untuk meringankan kepala dan menyegarkan badan setelah semua proses penuh drama yang insya Allaah tidak membuat saya kapok untuk punya anak lagi. Hihihi… Pokoknya, terima kasih banyak atas semua kontribusi RSIA Kasih Ibu Purworejo dalam proses kelahiran Zhen. Terima kasih banyak… 🙂

Executive Function (Part 2)

“Academic and Parenting Seminar”
Bright Children, Bright Future
25 Juli 2015
Pembicara: Supra Wimbarti, M. Sc, Ph. D; Alissa Wahid, Psikolog; dan Prof. Adele Diamond, Ph. D, FSRC

(Post sebelumnya di sini)

Alissa Wahid kembali menuturkan di sesi tanya jawab, bahwa yang harus diajarkan pada anak itu bukan hukuman, tapi konsekuensi; bahwa setiap tindakan anak punya konsekuensi. Kalau anak merengek minta mainan, beri konsekuensi pulang. Ya harus pulang beneran. Bukan malah “Nanti Mamah bilang Satpam biar kamu dipukul” 😪. Atau ketika berada di pesawat dan anak rewel. Jangan sampai mengatakan sesuatu yang tidak masuk di akal, “Kalau kamu nakal, nanti diturunin sama Pilot lho”. Bisa jadi anak malah meremehkan konsekuensi yang kita buat, memangnya gampang nurunin orang di udara?

Buat aturan, lalu terapkan dengan tegas. Buat konsekuensi atas tiap tindakan anak. Bukan dengan seenaknya melempar kesalahan pada satpam, polisi, dokter, tentara (beberapa profesi entah kenapa bernasib sial untuk menakut-nakuti anak).

Masalah penggunaan gadget juga menjadi perhatian para orangtua. Bukan menyalahkan gadget atau televisinya. Salahkan diri yang tidak punya pengendalian diri yang baik. Salahkan diri, karena sebenarnya setiap orang punya pilihan. Pilihan untuk tidak menggunakan gadget di depan anak. Pilihan untuk hanya menggunakan gadget di kantor. Pilihan untuk mengatur jadwal menonton televisi, dan tidak meminta bantuan televisi untuk membuat anak lebih tenang. Semuanya pilihan kita…

Jangan cemaskan kelak anak kita akan jadi apa. Tapi cemaskan kita sudah jadi orangtua seperti apa… (Alissa Wahid)